Tanpa judul

  

Hari Tani Nasional 2026

Siapa Yang Akan Menjadi Petani Indonesia di Masa Depan?

Oleh: Wahyudi Nasution
Ketua Kornas JATAM – MPM PP Muhammadiyah

Setiap 24 September kita memperingati Hari Tani Nasional. Tetapi di balik peringatan itu, ada satu pertanyaan penting yang harus kita jawab bersama: Siapa yang akan menjadi petani Indonesia pada 10, 20, atau 30 tahun mendatang?

Pertanyaan ini bukan sekadar tentang profesi. Ini adalah pertanyaan tentang masa depan pangan dan masa depan bangsa. Indonesia membutuhkan pangan setiap hari. Beras, jagung, sayuran, buah, daging, telur, ikan, dan berbagai komoditas pangan lainnya harus terus diproduksi.

Tentu pangan tidak tumbuh dengan sendirinya. Harus ada manusia yang menanam, merawat, memanen, mengolah, dan memasarkannya. Mereka adalah petani. Maka, ketika kita berbicara tentang kedaulatan pangan, kita tidak boleh hanya berbicara tentang produksi. Kita juga harus berbicara tentang regenerasi petani. 

Petani Bukan Masa Lalu

Salah satu tantangan besar pertanian Indonesia adalah semakin perlunya menarik generasi muda ke sektor pertanian. Di banyak tempat, profesi petani masih dianggap sebagai pekerjaan yang berat, berisiko, dan kurang menjanjikan. Bahkan, petani identik dengan kemiskinan. Hampir tidak ada petani mengarahkan anaknya menjadi petani. Maka, anak-anak petani pun ingin meninggalkan dunia pertanian. Padahal, pertanian adalah salah satu sektor yang menentukan masa depan Indonesia.

Cara pandang terhadap petani harus berubah. Petani bukan masa lalu. Petani adalah masa depan. Dan, petani masa depan tidak harus identik dengan gambaran petani masa lalu. Mereka dapat memanfaatkan teknologi digital, mekanisasi, drone, sensor, kecerdasan buatan, data cuaca, informasi pasar, hingga pemasaran digital.

Mereka dapat menjadi petani sekaligus pengusaha. Mereka dapat mengelola lahan dengan pendekatan bisnis, membangun merek, mengembangkan produk olahan, dan mengakses pasar yang lebih luas.

Yang kita perlukan saat ini bukan sekadar petani muda, tetapi petani generasi baru yang inovatif, adaptif, menguasai teknologi, memahami bisnis, dan mampu membaca setiap perubahan zaman. 

Jangan Hanya Mengajak Anak Muda ke Sawah

Mengajak anak muda menjadi petani tidak cukup dengan mengatakan bahwa bertani itu mulia. Memang benar bahwa bertani adalah pekerjaan mulia. Tetapi, generasi muda juga membutuhkan masa depan ekonomi yang layak. 

Dengan demikian, persoalan regenerasi petani harus dibarengi dengan pembenahan ekosistem pertanian. Petani harus memiliki akses terhadap benih berkualitas, teknologi, modal, pengetahuan, pendampingan, dan pasar. Hasil pertanian juga harus memiliki nilai tambah. Petani jangan hanya menjual gabah. Jangan hanya menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah. Petani perlu terhubung dengan pengolahan, industri, distribusi, perdagangan, dan konsumen.

Di sinilah koperasi dan kelembagaan ekonomi petani memiliki peran strategis. Petani harus berjejaring, berkoperasi, mengkonsolidasikan produksi, memperkuat posisi tawar, dan mengambil bagian lebih besar dalam rantai nilai pangan.

Kedaulatan Pangan Dimulai Dari Petani

Kedaulatan pangan tidak cukup hanya dengan memastikan pangan tersedia. Kita juga harus memastikan bahwa orang yang memproduksi pangan memiliki kehidupan yang layak dan memiliki masa depan.

Tidak mungkin membangun kedaulatan pangan tanpa petani yang kuat. Tidak mungkin menarik generasi muda ke pertanian jika sektor ini tidak memberikan prospek ekonomi. Tidak mungkin membangun pertanian masa depan jika regenerasi petani tidak menjadi agenda bersama.

Oleh karena itu, kita membutuhkan ekosistem pertanian yang menghubungkan antara petani-koperasi-teknologi-pembiayaan-industri-pasar-konsumen. Semakin kuat keterhubungan tersebut, semakin besar peluang pertanian menjadi sektor ekonomi yang menarik bagi generasi muda.

Muhammadiyah dan Regenerasi Petani

Dalam konteks inilah Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) mengambil bagian. Sebagai bagian dari ekosistem Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, JATAM  berikhtiar untuk memperkuat petani sekaligus membangun ekosistem pertanian yang lebih produktif, mandiri, dan berkelanjutan. Pertanian, peternakan, perkebunan, hortikultura, perikanan budidaya, pengembangan benih, hingga industri pangan merupakan ruang yang terbuka bagi generasi muda.

Generasi muda tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penerima program. Mereka perlu terus didorong agar menjadi pelaku utama transformasi pertanian Indonesia. Kita membutuhkan anak-anak muda yang dengan bangga mengatakan, "Saya memilih menjadi petani." Bukan karena tidak memiliki pilihan lain, tetapi karena mereka melihat pertanian sebagai profesi yang bermartabat, memiliki masa depan, menghasilkan, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.

Pertanyaan Besar Hari Tani Nasional

Pada Hari Tani Nasional 2026 ini, persoalan kita bukan lagi tentang bagaimana cara meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga memastikan kesiapan generasi muda untuk terus memproduksi pangan Indonesia.

Persoalan tersebut harus menjadi perhatian bersama pemerintah, organisasi petani, koperasi, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga keuangan, organisasi masyarakat, dan terutama generasi muda. Sebab, masa depan kedaulatan pangan Indonesia pada akhirnya bukan hanya ditentukan oleh luas lahan, teknologi, atau besarnya investasi. Ia juga ditentukan oleh siapa yang akan menanam dan memproduksi pangan Indonesia di masa depan. 

Mari kita jadikan Hari Tani Nasional 2026 sebagai momentum untuk membangun pertanian yang lebih modern, produktif, menguntungkan, berkelanjutan, dan membanggakan. Mari kita pastikan bahwa anak muda tidak hanya menjadi konsumen pangan. Mereka harus menjadi pelaku utama industri pangan Indonesia.

Petani Berdaulat, Pangan Kuat, Indonesia Berkemakmuran.

Klaten, 21 September 2026