BELAJAR DARI NGUDI MAKMUR SAMIRAN:
BELAJAR DARI NGUDI MAKMUR SAMIRAN:
BERJAMAAH DI SAWAH, MENGUATKAN PETANI
Ada satu hal yang segera terasa ketika rombongan Pemdes dan BPD Jemawan tiba di kawasan pertanian Samiran, Parangtritis, Bantul, Ahad (27/9/2026).
Rombongan sekitar 50 orang—mayoritas petani, bersama unsur Pemdes, BPD, RT-RW, BUMDes, dan Koperasi Desa Merah Putih—diterima dan dipandu langsung oleh Ketua Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Makmur Samiran, Pak Sujito. Suasana pun segera berubah menjadi ruang belajar bersama.
Para petani dari Jemawan tampak antusias mengikuti penjelasan Pak Sujito dan timnya, mulai dari pola tanam, pengairan, pengelolaan benih bawang merah, budidaya cabe, pengendalian hama, hingga pemasaran hasil panen.
Kompak Menanam, Kuat Memasarkan
Salah satu hal yang menarik perhatian rombongan adalah kekompakan pola tanam anggota Poktan. Bagi petani, kekompakan pola tanam bukan perkara sederhana. Dengan waktu tanam yang relatif serempak, produksi bawang merah dapat terkonsolidasi sehingga volume panenan menjadi cukup besar. Dampaknya terasa sampai ke pemasaran.
Pak Sujito menjelaskan bahwa hasil panenan bawang merah mereka tidak mengalami kesulitan berarti dalam pemasaran. Hasil panen bawang merah dari 160 Ha lahan pada musim panen Agustus lalu, misalnya, tuntas terjual dalam waktu dua Minggu. Para pembeli skala besar datang dari Jateng, Jatim, dan Jabar. Truk-truk tronton parkir di Jalan Lingkar Selatan mengantri pasokan barang hasil panen yang diangkut dengan mobil-pickup yang lalu-lalang ke lahan. Hal ini bisa terjadi karena skala panenan yang cukup besar sebagai hasil dari kekompakan pola tanam anggota kelompok.
Petani tetap mengelola lahannya masing-masing. Tetapi ketika tiba pada urusan tertentu, mereka bergerak dalam satu irama, termasuk dalam hal harga jual panenan.
Di sinilah rombongan Jemawan mendapatkan pelajaran penting, bahwa berjamaah ternyata bukan hanya ketika shalat di masjid. Di sawah pun petani perlu berjamaah. Berjamaah dalam menentukan pola tanam. Berjamaah dalam mengelola air. Berjamaah dalam mengembangkan benih. Berjamaah dalam menghadapi hama. Dan, yang tidak kalah penting, berjamaah dalam menghadapi pasar.
Sawah Bertemu Teknologi
Kekompakan itu kemudian diperkuat dengan pemanfaatan teknologi. Poktan Ngudi Makmur memanfaatkan program Listrik Untuk Sawah dari PLN guna mendukung pengairan lahan pertanian. Tidak berhenti di sana. Pengoperasian sistem pengairan juga sudah memanfaatkan teknologi digital. Pak Sujito dan timnya mendemonstrasikan bagaimana pengairan dapat dikendalikan melalui aplikasi menggunakan telepon seluler.
Rombongan melihat langsung bahwa teknologi tidak harus sesuatu yang rumit dan mahal. Teknologi justru menjadi alat untuk menjawab kebutuhan petani secara sederhana: mengelola air dengan lebih efektif dan efisien.
Kreativitas Petani Menghadapi Hama
Rombongan juga mendapatkan penjelasan mengenai cara praktis dan sederhana menghadapi hama. Salah satu yang menarik adalah inovasi kreatif alat sederhana dan tepat guna untuk mengendalikan hama kupu-kupu atau klaper. Alat tersebut dibuat dengan memanfaatkan galon bekas dan lampu ultraviolet.
Sederhana, murah, tetapi lahir dari kreativitas dan pengalaman petani sendiri. Sebuah pelajaran bahwa inovasi pertanian tidak selalu harus datang dari laboratorium atau perusahaan teknologi. Kadang inovasi lahir dari sawah, dari pengalaman petani menghadapi persoalan sehari-hari.
Berjamaah di Masjid, Berjamaah di Sawah
Kunjungan ke Samiran akhirnya memberikan makna yang lebih dalam bagi rombongan Jemawan. Kita mengenal jamaah terutama dalam konteks ibadah. Kita berjamaah di masjid, berdiri dalam saf-saf, dan menghadap kiblat yang sama. Tetapi, semangat berjamaah seharusnya tidak berhenti ketika kita keluar dari masjid. Di sawah pun kita perlu berjamaah.
Petani boleh memiliki lahan masing-masing. Tanaman boleh dikelola masing-masing. Tetapi jenis tanamannya harus kompak. Demikian juga ketika menghadapi persoalan air, benih, teknologi, hama, produksi, hingga pasar, kekuatan petani akan jauh lebih besar apabila dilakukan secara bersama-sama.
Berjamaah bukan berarti menghilangkan kemandirian. Berjamaah justru membuat kemandirian menjadi kekuatan bersama.
Inilah yang terlihat di Ngudi Makmur Samiran, Parangtritis, Bantul. Kekompakan pola tanam menghasilkan skala produksi. Skala produksi memperkuat posisi pemasaran. Teknologi membantu efisiensi. Kelompok menjadi ruang belajar. Dan kebersamaan menjadi modal sosial.
Bagi rombongan Jemawan, inilah salah satu oleh-oleh terpenting dari Samiran. Bukan sekadar bagaimana menanam bawang merah, tetapi bagaimana mengubah petani-petani yang berjalan sendiri-sendiri menjadi jamaah petani yang memiliki kekuatan bersama.
Kalau kita sudah terbiasa berjamaah di masjid, mengapa tidak belajar berjamaah pula di sawah? Dari masjid kita membangun kesalehan. Dari sawah kita membangun kemakmuran. Dan keduanya dapat tumbuh melalui semangat berjamaah.
Barangkali itulah salah satu pesan paling penting yang dibawa pulang rombongan Jemawan dari Samiran: “Berjamaah di masjid untuk menguatkan iman; berjamaah di sawah untuk menguatkan petani.”
Klaten, 29 September 2026
Pak Bei
