Mengintip Habitat Lama
Mengintip Habitat Lama
Saya memilih duduk di luar lingkaran. Bersama istri, saya sengaja datang sebagai sahabat lama Prof. Aprinus Salam, penggagas Kemah Sastra ini. Kami membawa jagung dan kacang rebus sekadar untuk camilan teman-teman. Setelah itu, saya duduk di samping Prof. Aprinus dan beberapa mahasiswanya, menyimak dari kejauhan. Rasanya seperti mengintip habitat lama.
Sejak mahasiswa di Jogja, saya pernah cukup lama hidup di dunia kesenian. Bermain teater, mendirikan Sanggar Shalahuddin UGM, dan kenyang dengan pentas-pentas teater maupun musik-puisi di Jogja, Surabaya, Jakarta, Malang, Makassar, dan beberapa kota lainnya.
Pertengahan 1990-an, saya mulai memasuki dunia pemberdayaan masyarakat. Awal 2000-an, saya kembali ke habitat kesenian melalui komunitas Kiai Kanjeng dan Emha Ainun Nadjib. Saya pun kemudian dipercaya menjadi manajer, sebelum akhirnya pada awal 2004 harus pulang ke Klaten menemani ibu yang sudah sepuh dan tinggal sendirian. Sejak itu, kehidupan saya lebih banyak berada di desa menekuni dunia pemberdayaan masyarakat, petani, pertanian, UMKM, dan berbagai urusan kehidupan warga.
Saya kira dunia kesenian sudah menjadi masa lalu. Ternyata saya keliru. Malam ini saya seperti membuka kembali pintu sebuah rumah lama.
Saya melihat anak-anak muda yang begitu serius berbicara tentang sastra. Mereka tidak hanya membawa karya, tetapi juga membawa kegelisahan. Mereka membicarakan novel, cerpen, dan puisi, membicarakan masa depan dan “nasib” sastrawan muda, kemudian bergiliran membaca dan mendengarkan puisi.
Yang membuat saya terkesan bukan kemegahan acaranya, tetapi justru sebaliknya, pada kesederhanaannya. Kemah Sastra ini tidak berbayar. Tidak komersial. Panitia hanya menyediakan tenda dan makan sederhana. Peserta bahkan harus membawa sendiri kebutuhan pribadinya dan menanggung perjalanannya masing-masing. Fasilitasnya pun sederhana. Tetapi mungkin justru karena itulah forum ini menjadi istimewa.
Yang disediakan Prof. Aprinus bukan kemewahan. Yang disediakannya adalah ruang. Ruang bagi anak-anak muda untuk bertemu. Ruang untuk membawa karya. Ruang untuk berdiskusi. Ruang untuk berbeda pandangan. Ruang untuk saling mendengarkan dan mengapresiasi. Prof. Aprinus pun hanya mempersyaratkan semua peserta harus mengirimkan karya cerpen dan lima puisi untuk diseleksi. Dan saya kira, ruang semacam ini semakin langka.
Sastrawan dan penyair, setahu saya, memiliki individualitas yang kuat. Mereka punya suara, gaya, pengalaman, kegelisahan, sudut pandang, dan dunia masing-masing. Karena itu, melihat mereka duduk bersama, saling membaca karya dan memberikan apresiasi, sungguh terasa menyenangkan.
Mereka tidak sedang berlomba menjadi yang paling hebat. Mereka sedang menjaga agar sastra tetap memiliki ruang untuk hidup. Di tengah zaman ketika orang semakin mudah berbicara melalui layar, mereka memilih bertemu secara langsung. Di tengah budaya yang semakin cepat memberikan penilaian, mereka memilih mendengarkan. Dan di tengah dunia yang semakin sibuk dengan angka dan transaksi, masih ada seseorang yang menyediakan ruang kebudayaan secara sukarela.
Untuk itu, saya mengapresiasi Prof. Aprinus Salam, sahabat lama yang malam ini mengingatkan saya bahwa kebudayaan tidak selalu harus dibangun dengan gedung megah, anggaran besar, atau acara yang gemerlap.
Kadang ia cukup dimulai dari sebuah ruang sederhana, beberapa tenda, empat puluh anak muda pecinta sastra, dan seorang yang bersedia menyediakan waktu untuk mempertemukan mereka, secara sederhana.
Saya dan istri datang membawa jagung dan kacang rebus. Mereka datang membawa karya novel, cerpen, dan puisi. Kami membawa hasil bumi. Mereka membawa hasil perenungan. Dan malam ini keduanya bertemu di Kalimasada di kawasan lereng Gunung Merapi. Mungkin itulah kebudayaan: sesuatu yang lahir ketika manusia mau berbagi apa yang dimilikinya.
Malam semakin larut. Sebagian peserta masih asyik ngobrol. Sebagian lainnya sudah masuk tenda, beristirahat menghadapi pagi.
Saya masih menikmati sisa suasana. Saya tidak tahu apakah setelah malam ini saya akan kembali aktif di dunia kesenian seperti dulu. Barangkali tidak. Saya sudah menemukan habitat lain: desa, petani, masyarakat dan pemberdayaan.
Tetapi malam ini saya mendapat satu kesadaran kecil, bahwa habitat lama itu ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya saya tinggalkan. Dan malam ini, setelah lebih dari dua puluh tahun, saya kembali mengintipnya dari luar lingkaran. Ditemani jagung dan kacang rebus. Dan ternyata...masih terasa seperti masuk di rumah sendiri.
Pakem, Sleman, 14 Agustus 2026