Tanpa judul
Kontemplasi Pasca-Kick-Off Rojolele Reborn
Setelah Menanam, Apa Yang Kita Tumbuhkan?
Oleh: Wahyudi Nasution, Ketua Kornas Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM)
Alhamdulillah, Kick-Off Gerakan Rojolele Reborn hari ini, 20 Agustus 2026, berlangsung lancar. Tanam perdana Rojolele-104 telah dilakukan. Gejog lesung telah ditabuh. Nasi Rojolele telah kita nikmati bersama. Tetapi setelah semua seremoni selesai, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: Setelah hari ini, apa yang sesungguhnya hendak kita tumbuhkan? Tentu bukan sekadar padi.
Kita ingin menumbuhkan kembali harapan petani Klaten. Kita ingin menghidupkan kembali Rojolele sebagai warisan pertanian sekaligus komoditas bernilai ekonomi. Dan lebih jauh lagi, kita ingin membangun sebuah ekosistem pertanian yang membuat petani memiliki masa depan yang lebih baik. Karena itu, lima hektare yang menjadi tahap awal Rojolele Reborn tidak boleh dipahami sebagai batas program. Lima hektare ada pilot project.
Di hamparan sawah di Gempol, Ceper, dan Prambanan, kita akan membuktikan bahwa Rojolele dapat dibudidayakan secara baik, produktif, berkualitas, menguntungkan petani, dan memiliki pasar yang kuat. Dan kita memiliki modal untuk optimistis.
Animo petani Klaten untuk terlibat dalam gerakan Rojolele Reborn cukup besar. Potensi perluasan lahan terbuka. Pada saat yang sama, potensi pasar beras berkualitas dan produk pangan berbasis local heritage juga sangat besar. Pertanyaannya bukan lagi sekadar berapa hektar yang bisa kita tanam. Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak petani yang dapat kita libatkan, dan seberapa besar pasar yang mampu kita bangun.
Di sinilah Rojolele Reborn harus bergerak dari sekadar program budidaya menjadi sebuah ekosistem. Petani menjadi basis produksi. JATAM Klaten menjadi penggerak dan pendamping. Koperasi JATAM Klaten menjadi instrumen agregasi, penguatan posisi tawar petani, dan tata niaga. PT LUKU siap memberikan dukungan dari sisi bisnis dan pengembangan ekosistem usaha. Jaringan Muhammadiyah membuka potensi pasar yang sangat luas. Kehadiran sejumlah pimpinan PTMA, RS PKU Muhammadiyah dan RSIA dalam Kick-Off hari ini memberi gambaran bahwa ekosistem Muhammadiyah sendiri memiliki potensi menjadi salah satu pasar awal Rojolele.
Tentu semua itu tidak otomatis terjadi. Pasar membutuhkan kualitas. Membutuhkan kontinuitas. Membutuhkan harga yang kompetitif. Dan semuanya membutuhkan tata kelola yang profesional. Tetapi setidaknya, rantai ekosistemnya sudah mulai terlihat: petani menanam, koperasi JATAM mengagregasi, jaringan Muhammadiyah menyerap, dan nilai tambah kembali kepada petani.
Di sinilah keseriusan semua pihak menjadi sangat menentukan. MPM PP Muhammadiyah, Danone Indonesia, JATAM Klaten, para petani, Koperasi JATAM Klaten, PT LUKU, serta seluruh jejaring yang terlibat tidak boleh berhenti pada komitmen yang diucapkan ketika Kick-Off.
Rojolele Reborn hanya akan menjadi gerakan apabila semua pihak bersedia menjadi pelaku, bukan sekadar peserta. Kehadiran Ketua PWM Jawa Tengah, Ketua PDM Klaten, Kepala Baperinda Klaten, serta 19 Ketua MPM dan JATAM Cabang dalam Kick-Off hari ini juga merupakan modal sosial yang sangat berarti. Kehadiran mereka bukan sekadar dukungan seremonial. Ia adalah tanda bahwa Rojolele Reborn mulai mendapatkan dukungan dari berbagai simpul kekuatan.
Namun dukungan tersebut harus dikonkretkan: membuka akses lahan, menggerakkan petani, memperkuat pendampingan, mengawal koperasi, membangun pasar, dan—jika model ini berhasil—ikut memperluas gerakan. Oleh karena itu, setelah hari ini kita tidak membutuhkan semakin banyak seremoni. Yang kita butuhkan adalah semakin banyak kerja nyata.
PT Danone Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam perjalanan ini. Keterlibatannya hendaknya tidak berhenti sebagai dukungan CSR pada tahap awal. Rojolele Reborn memiliki peluang untuk menjadi sebuah model keberlanjutan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Klaten.
Danone memiliki pengalaman panjang dalam isu keberlanjutan, lingkungan, air, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Rojolele Reborn membuka ruang untuk memperluas makna keberlanjutan tersebut: dari menjaga lingkungan dan sumber daya air, menuju penguatan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.
Keberlanjutan tidak hanya berhenti menjaga air. Keberlanjutan juga berarti memastikan tanah pertanian tetap produktif, pangan tetapi tersedia, dan petani tetap memiliki masa depan.
Di sinilah kami berharap Danone melihat Rojolele Reborn bukan sebagai program lima hektare, melainkan sebagai investasi sosial jangka panjang di Klaten. Lima hektare adalah ruang untuk belajar dan membuktikan.
Progress report akan dikirim setiap bulan. Pertumbuhan tanaman, keterlibatan petani, produktivitas, biaya produksi, kualitas hasil, persoalan lapangan, hingga perkembangan pasar akan dicatat dan dievaluasi bersama.
Jika modelnya terbukti berhasil, maka sangat terbuka peluang untuk memperluas lahan sesuai dengan animo petani dan potensi pasar. Dari lima hektare menjadi puluhan hektare. Dari puluhan menjadi ratusan. Bukan sekadar memperluas luas tanam, tetapi memperluas manfaat ekonomi bagi petani.
Di titik itulah keberlanjutan kemitraan menjadi penting. Maka kami berharap Danone tidak hanya hadir untuk memulai, tetapi juga berjalan bersama ketika program ini mulai umbuh. Sebab, dampak terbesar sebuah kolaborasi justru lahir ketika para pihak bersedia menjaga komitmennya dalam jangka panjang.
Rojolele Reborn dapat menjadi contoh bahwa kolaborasi antara dunia usaha, Muhammadiyah, organisasi petani, koperasi, pemerintah, dan masyarakat dapat melahirkan sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan masing-masing. Dan mungkin, kelak ketika Rojolele tumbuh di semakin banyak sawah Klaten, kita tidak lagi berbicara tentang sebuah program CSR. Kita berbicara tentang sebuah gerakan ekonomi petani. Sebuah gerakan yang menghubungkan benih dengan petani, petani dengan koperasi, koperasi dengan pasar, dan pasar dengan kesejahteraan.
Maka, setelah Kick-Off hari ini, mari kita menjaga api yang sudah dinyalakan. Jangan biarkan Rojolele Reborn berhenti pada foto tanam perdana. Mari kita buktikan bahwa dari lima hektare pertama ini dapat tumbuh sesuatu yang lebih besar: petani yang lebih berdaya, koperasi JATAM Klaten yang lebih kuat, pasar yang lebih luas, dan kolaborasi yang lebih kokoh.
Hari ini kita menanam Rojolele-104. Semoga yang tumbuh bukan hanya bulir-bulir padi, tetapi juga kepercayaan, keberlanjutan, pasar, kolaborasi, dan masa depan baru bagi petani Klaten.
Klaten, 20 Agustus 2026
